ilmu kealaman dasar

Document Sample
ilmu kealaman dasar Powered By Docstoc
					                               BAB II
                      BUMI DALAM ALAM SEMESTA

       1. PEMBENTUKAN ALAM SEMESTA




   PEMAHAMAN MANUSIA (ILMUWAN) TENTANG PEMBENTUKAN ALAM SEMESTA

       A. Kelahiran dan Kematian Alam Semesta
           “Dari mana planet dan kita berasal?”… “Dari mana semua ini berawal?”… Mungkin ini
          adalah pertanyaan yang paling sering diperdebatkan para ilmuan. Saya akan membawa
          para Netsainers pergi 13,7 milyar tahun yang lalu untuk melihat bagaimana Alam
          semesta terbentuk, dari mana semua unsur berasal, dan bagaimana semua ini akan
          berakhir.

       1. Teori Pembentukan Alam Semesta

          Hingga Tahun 1928 banyak sekali teori bagaimana alam semesta ini berawal, dari teori
          ada dengan seketika sampai teori radikal yang mengatakan bahwa alam semesta tidak
          mempunyai awal maupun akhir, tapi semua itu hanyalah sebuah asumsi dan sama sekali
          tidak terbukti. Tuan Hubble Pada tahun 1929 sedang mengamati ledakan supernova,
          sinar yang super terang dari supernova itu membuatnya sadar bahwa galaksi didekatnya
          semakin menjauh pada setiap detiknya. Lalu dia mengamati frekuensi cahaya dari galaksi
          yang menjauh itu, apa yang dia dapat sangat mengejutkan, frekuensinya semakin
          menurun dan merubah warna cahaya galaksi itu menjadi merah. Perubahan warna yang
          radikal itu membuktikan bahwa alam semesta sedang memuai dengat sangat cepat!!
          Ketika itu dia menyadari bahwa dahulu kala alam semesta pernah saling berdekatan
          bahkan menyatu menjadi sebuah titik kecil, lalu energi yang besar membuatnya memuai.
          Kemudian teori Big Bang mulai diakui oleh dunia.

       2. Awal di Dalam Kehampaan

          Para ilmuan memperkirakan bahwa sebelum terjadi Big Bang tidak ada apa-apa, tidak
          ada materi dan energi, tidak ada ruang, bahkan tidak ada Waktu. Lalu entah dari mana
          muncul sebuah titik energi kecil yang kemudian energi ini memuai dan membesar
          kesegala penjuru, terciptalah ruang dan waktu. Pada saat itu alam semesta hanya dipenuhi
          oleh energi dan suhunya sangat panas.
          Dua orang pegawai Bell Telephone bernama Tuan Penzias dan Tuan Wilson sedang
          memperbaiki gangguan gelombang elektromagnetik dengan antenanya, entah kenapa
          gelombang pengganggu ini tidak juga hilang, bahkan setelah sarang dan kotoran burung
          pada antenanya dibersihkan. Mereka menyadari bahwa gelombang tesebut berasal dari
          angkasa (gelombang ini dinamakan CMB, Cosmic Microwave Background) dan

    ‘’Makalah Bumi dalam Alam Semesta’’_Ilmu Kealaman Dasar                                Page 1
      merupakan sebuah konsekuensi dari terjadinya Big Bang. Ini membuktikan bahwa entah
      bagaimana energi yang memenuhi alam semesta telah berubah menjadi materi yaitu
      foton. Keberadaan CMB juga membuktikan bahwa materi merupakan wujud lain dari
      energi, dan Rumus E=∆MC2 mendukung hal itu.
      Tetapi ada masalah lain, ketika alam membentuk materi ia juga membentuk “sisi jahat”
      dari materi pula, ANTIMATERI. Jika keduanya bersentuhan maka materi yang tercipta
      akan dikonversi kembali ke energi secara utuh. Untunglah suhu yang cukup panas pada
      waktu itu membuat materi dan antimateri tidak bersentuhan sama sekali. Saat itu alam
      telah menciptakan atom pertama yaitu Hidrogen.
      Pada saat itu suhu alam semesta tidak bisa menciptakan unsur yang lebih berat dari
      Hidrogen. Lalu bagaimana unsur-unsur yang lebih berat seperti besi tercipta?

   3. Kelahiran ke-103 Materi Pembentuk Alam

      Seiring terciptanya materi maka tercipta pula gravitasi, walaupun hidrogen memiliki
      masa yang teramat sangat kecil tetap saja dia membelokkan ruang dan waktu dengan kata
      lain memiliki gravitasi. Saat itu atom-atom hidrogen telah memenuhi alam semesta tetapi
      gravitasi mereka membuat mereka saling tarik menarik dan membentuk sebuah bola
      hidrogen yang besar. Pada suatu titik tertentu, inti bola hidrogen akan merasa “pengap”,
      ketika suhu intinya sampai pada suatu titik dimana reaksi thermonuklir bisa menopang
      dirinya sendiri maka terciptalah “pabrik” pencipta 103 unsur yang telah kita ketahui
      sampai saat ini, BINTANG.
      Dua buah atom hidrogen akan membentuk satu buah atom helium, dua buah atom helium
      membentuk satu buah atom berium, dan seterusnya sampai pada terciptanya atom besi.
      Besi merupakan unsur yang “unik” karena suhu di inti bintang tidak mampu membuat
      besi melakukan reaksi nuklir menjadi unsur yang lebih berat. Lalu bagaimana unsur yang
      lebih berat seperti timbal, emas dan perak terbentuk? Satu-satunya jalan adalah kita
      membutuhkan suhu yang lebih panas dari suhu didalam inti bintang, SUPERNOVA.
      Suhu ketika supernova terjadi bisa mencapai jutaan kali suhu didalam inti bintang, ini
      dikarenakan pada saat itu bukan hanya unsur hidrogen saja yang di bakar tetapi unsur-
      unsur yang lebih berat seperti besi juga ikut terbakar. Selanjutnya unsur-unsur yang lebih
      berat itu terlempar ke segala penjuru angkasa luas. Begitulah ke-103 materi pembentuk
      alam tercipta.

   4. Akhir yang Suram

      Bailklah kita sudah mengetahui bagaimana semua ini berawal, lalu bagaimana semua ini
      akan berakhir? Banyak orang percaya bahwa alam semesta didominasi oleh materi,
      sehingga suatu saat memuainya alam semesta akan berhenti dan memulai berdekatan
      kembali ke sebuah titik semula atau biasa disebut Big Crunch. Tapi penelitian baru-baru
      ini menunjukan memuainya alam semesta tidaklah melambat sama sekali melainkan
      dipercepat, ini membuktikan alam semesta didominasi oleh energi dan bukanlah oleh
      materi, energi yang mempercepat memuainya alam semesta yang dipercepat sampai saat
      ini belum diketahui sehingga kita menyebutnya “Energi Gelap”.

      Ini menegaskan bahwa suatu saat nanti kita tidak akan melihat galaksi Andromeda, kita
      akan menjauh dari matahari, bahkan atom-atom di kuku kita akan saling menjauh. Di
      masa depan nanti semua atom yang ada di alam semesta akan terurai menjadi bentuk
      yang lebih kecil, proton akan terpisah dari neutron, quark akan terurai menjadi sesuatu
      yang lebih kecil dan seterusnya hingga alam semesta menjadi kosong dan yang tertinggal
      hanyalah waktu dan ruang yang sangat luas.

      Ketidakhadiran orang-orang dari masa depan yang menghindari musnahnya alam semesta
      merupakan bukti kuat bahwa ras manusia tidak bisa selamat dari runtuhnya alam semesta.
      Walaupun banyak juga kemungkinan lain seperti manusia yang berpindah dimensi atau
      undang-undang perjalanan waktu yang melarang kontak dengan manusia masa lalu. Pada


‘’Makalah Bumi dalam Alam Semesta’’_Ilmu Kealaman Dasar                                  Page 2
      titik ini kita menyadari bahwa harta yang kita kumpulkan akan kembali ke dalam
      kehampaan, berawal dari kehampaan diakhiri dengan KEHAMPAAN.

      teori bigbang d terima karena penampilan alam semesta sekarang seperti balon
      maksudnya setelah meledak kelanjutan dari ledakan adalah alam semesta masih
      mengembang hingga ilmuwan astronom Edwin Hubble mendistribusikan alam semesta
      seperti balon.

      dengan dibuktikan adax radiasi latar belakang yaitu pada bagian alam semesta yang
      menjadi kemungkinan batas alam semesta terdapat batasan yang disebut latar belakang.
      radiasinya dilihat pinggir alam semesta itu punya sudut kelengkungan yang kurang dari
      1,5 derajat ( membuktikan adanya bagian bulat)

      juga dari ada tiada menjadi ada (bukti bahwa alam semesta dari ada menjadi ada hanya
      dari ledakan)

      dilihat juga penyebaran galaksi dan bentuk awal galaksi yang semula kecil hanya terdiri
      dari unsur helium saja dan atau hidrogen saja mengembang dari himpitan antar atom pada
      keadaan vakum hingga menjadi ledakan pada beberapa galaksi dan galaksi muda yang
      berbentuk masih bulat(bentuk awal)

      serta peluruhan atom utama pada bintang yang berpijar masih terdapat unsur helium pada
      hasil peluruhan, oksigen yang ada ketika ada asteroid dan hidrogen pada tenaga peraksi
      energi bintang

   5. Teori Keadaan Tetap
      Teori Keadaan Tetap menyebutkan bahwa alam semesta selalu memuai dengan laju tetap
      dan materi baru terus menerus tercipta. Akibatnya, dalam ruang tertentu selalu dipadati
      oleh materi yang berjumlah tetap. Teori ini diajukan oleh ahli kosmologi bangsa Inggris
      (Fred Hoyle, Herman Bondi dan Thomas Gold). Dikatakan bahwa alam semesta ini tak
      berawal dan tak berakhir. Di mana-mana sama setiap saat. Agar alam semesta selalu
      dalam keadaan begitu maka perlu diciptakan bahan baru secara sinambung. Bahan baru
      ini menimbulkan tekanan yang memaksa alam semesta memuai secara terus-menerus.
      Bahan baru tersebut selanjutnya memadat menjadi galaksi untuk mengisi kekosongan
      yang ditimbulkan karena pemuaian.



   6. Teori Dentuman Besar



                                       Teori Dentuman Besar menyatakan bahwa alam
                                       semesta ini bermula dari suatu ledakan dahsyat (Big
                                       Bang) dan galaksi akan meluas tanpa batas. Teori lahir
                                       dari pemikiran ahli fisika Amerika (George Gamow). Ia
                                       mengatakan bahwa pada mulanya, alam semsta ini
                                       seperti bola raksasa yang sangat padat. Bola raksasa ini
                                       terdiri dari neutron dan tenaga pancaran yang disebut
      „Ylem” (diucapkan „ailem‟). Sekitar 18 milyar tahun yang lalu, ylem ini meledak
      dahsyat. Bola mengembang sehingga berkurang kepadatannya dan turunlah suhunya dari
      milyaran derajad hingga jutaan derajad. Pada suhu sekitar 60 juta derajad semua neutron
      berubah menjadi proton dan elektron. Bersamaan dengan suhu yang menurun,
      terbentuklah semua unsur yang ada di alam sekarang ini. Pada suhu sekitar 300 derajad
      semua unsur berubah menjadi gas. Gumpalan gas inilah yang menjadi awal dari sebuah
      galaksi.


‘’Makalah Bumi dalam Alam Semesta’’_Ilmu Kealaman Dasar                                 Page 3
   7. Teori alam semesta yang berayun

      Tampaknya Teori Alam Semesta yang Berayun merupakan kelajutan dari teori Dentuman
      Besar. Para ahli menemukan bahwa gerak galaksi yang saling menjauh itu menunjukkan
      tanda-tanda makin melambat. Pelambatan ini menghasilkan suatu spekulasi bahwa alam
      semesta ini melengkung positif. Apabila benar demikian maka berarti alam semesta ini
      tak bertepi tetapi tidak tanpa batas. Sehingga, pada suatu waktu semua materi akan
      berhenti dan mulai mengerut lagi sebagai akibat gaya (tarik) gravitasi. Semua materi akan
      termampat lagi menjadi sebuah bola raksasa dan selanjutnya akan meledak lagi.
      Terbentuklah alam semsta seperti yang kita alami saat ini. Selama proses mengembang
      dan mengkerut, memampat dan meledak tiada materi yang rusak atau tercipta, melainkan
      hanya beubah tatanannya.



   B. Teori Bingung Alam Semesta
    1. Menurut filosof materialis Goerge Politzer

            “Alam semesta bukanlah sesuatu yang diciptakan. Jika ia diciptakan, ia sudah pasti
      diciptakan oleh Tuhan dengan seketika dan dari ketiadaan,” begitu ditulis filosof materialis
      George Politzer, dalam bukunya Principes Fondamentaux de Philosophie.”

      Hanya gara-gara fanatik pada keyakinannya bahwa “Tuhan tidak ada” para ilmuwan seperti
      Politzer ngotot mempertahankan pendapat, bahwa alam semesta bukanlah sesuatu yang
      diciptakan. Melainkan ada begitu saja, dengan sendirinya.

      Para penganut materalisme ini meyakini model “alam semesta tak hingga” sebagai dasar
      berpijak paham ateis mereka. Menurut mereka alam semesta adalah sesuatu yang diam, luas
      tak terbatas, tak berkembang, dan kekal, dari dulu sampai nanti.

      Inilah gagasan yang berkembang di abad ke-19. Selain meletakkan dasar berpijak bagi paham
      materialis, pandangan ini otomatis menolak keberadaan Sang Pencipta (Al-Khaliq) dan
      menyatakan bahwa alam semesta tidak berawal dan tidak berakhir.

      Materialisme adalah sistem berpikir yang meyakini materi sebagai satu-satunya keberadaan
      yang mutlak dan menolak keberadaan apapun selain materi. Berakar pada kebudayaan Yunani
      kuno, dan mendapat penerimaan yang meluas di abad ke-19. Sistem berpikir ini menjadi
      terkenal dalam bentuk paham Materialisme Dialektika Karl Marx.
      Ketika Politzer berpendapat bahwa alam semesta tidak diciptakan dari ketiadaan, ia berpijak
      pada model alam semesta statis abad ke-19, dan menganggap dirinya sedang mengemukakan
      sebuah pernyataan ilmiah. Lucunya, berbagai penemuan sains dan teknologi yang berkembang
      di abad ke-20 akhirnya meruntuhkan gagasan kuno yang dinamakan materialisme ini.

   2. Astronomi Mengatakan: Alam Semesta Diciptakan
            Pada tahun 1929, di observatorium Mount Wilson California, ahli astronomi Amerika,
      Edwin Hubble membuat salah satu penemuan terbesar di sepanjang sejarah astronomi.

      Ketika mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia menemukan bahwa mereka
      memancarkan cahaya merah sesuai dengan jaraknya. Hal ini berarti bahwa bintang-bintang ini
      “bergerak menjauhi” kita. Sebab, menurut hukum fisika yang diketahui, spektrum dari sumber
      cahaya yang sedang bergerak mendekati pengamat cenderung ke warna ungu, sedangkan yang
      menjauhi pengamat cenderung ke warna merah.

      Jauh sebelumnya, Hubble telah membuat penemuan penting lain. Bintang dan galaksi bergerak
      tak hanya menjauhi kita, tapi juga menjauhi satu sama lain. Satu-satunya yang dapat

‘’Makalah Bumi dalam Alam Semesta’’_Ilmu Kealaman Dasar                                         Page 4
      disimpulkan dari suatu alam semesta di mana segala sesuatunya bergerak menjauhi satu sama
      lain adalah bahwa ia terus-menerus “mengembang”.

      Agar lebih mudah dipahami, alam semesta dapat diumpamakan sebagai permukaan balon yang
      sedang mengembang. Sebagaimana titik-titik di permukaan balon yang bergerak menjauhi satu
      sama lain ketika balon membesar, benda-benda di ruang angkasa juga bergerak menjauhi satu
      sama lain ketika alam semesta terus mengembang.

      Sebenarnya, fakta ini secara teoritis telah ditemukan lebih awal. Albert Einstein, yang diakui
      sebagai ilmuwan terbesar abad ke-20, berdasarkan perhitungan yang ia buat dalam fisika teori,
      telah menyimpulkan bahwa alam semesta tidak mungkin statis. Tetapi, ia mendiamkan
      penemuannya ini, hanya agar tidak bertentangan dengan model alam semesta statis yang diakui
      luas waktu itu. Di kemudian hari, Einstein menyadari tindakannya ini sebagai ‘kesalahan terbesar
      dalam karirnya’.

      Apa arti dari mengembangnya alam semesta? Mengembangnya alam semesta berarti bahwa
      jika alam semesta dapat bergerak mundur ke masa lampau, maka ia akan terbukti berasal dari
      satu titik tunggal. Perhitungan menunjukkan bahwa ‘titik tunggal’ ini yang berisi semua materi
      alam semesta haruslah memiliki ‘volume nol‘, dan ‘kepadatan tak hingga‘. Alam semesta telah
      terbentuk melalui ledakan titik tunggal bervolume nol ini.

      Ledakan raksasa yang menandai permulaan alam semesta ini dinamakan ‘Big Bang‘, dan
      teorinya dikenal dengan nama tersebut. Perlu dikemukakan bahwa ‘volume nol‘ merupakan
      pernyataan teoritis yang digunakan untuk memudahkan pemahaman. Ilmu pengetahuan dapat
      mendefinisikan konsep ‘ketiadaan‘, yang berada di luar batas pemahaman manusia, hanya
      dengan menyatakannya sebagai ‘titik bervolume nol‘.

      Sebenarnya, ‘sebuah titik tak bervolume‘ berarti ‘ketiadaan‘. Demikianlah alam semesta muncul
      menjadi ada dari ketiadaan. Dengan kata lain, ia telah diciptakan. Fakta bahwa alam ini
      diciptakan, yang baru ditemukan fisika modern pada abad ke-20, telah dinyatakan dalam Al-
      Quran 14 abad lampau: “Dia Pencipta langit dan bumi.” (Al-An’aam: 101)

   3. Big Bang, Fakta Menjijikkan Bagi Kaum Materialis
      Teori Big Bang menunjukkan, semua benda di alam semesta pada awalnya adalah satu wujud,
      dan kemudian terpisah-pisah. Ini diartikan bahwa keseluruhan materi diciptakan melalui Big
      Bang atau ledakan raksasa dari satu titik tunggal, dan membentuk alam semesta kini dengan
      cara pemisahan satu dari yang lain.

      Big Bang merupakan petunjuk nyata bahwa alam semesta telah ‘diciptakan dari ketiadaan‘,
      dengan kata lain ia diciptakan oleh Allah. Karena alasan ini, para astronom yang meyakini paham
      materialis senantiasa menolak Big Bang dan mempertahankan gagasan alam semesta tak
      hingga.

      Alasan penolakan ini terungkap dalam perkataan Arthur Eddington, salah seorang fisikawan
      materialis terkenal yang mengatakan: “Secara filosofis, gagasan tentang permulaan tiba-tiba
      dari tatanan Alam yang ada saat ini sungguh menjijikkan bagi saya”.

      Seorang materialis lain, astronom terkemuka asal Inggris, Sir Fred Hoyle termasuk yang paling
      merasa terganggu oleh teori Big Bang. Di pertengahan abad ke-20, Hoyle mengemukakan suatu
      teori yang disebut Steady-state yang mirip dengan teori ‘alam semesta tetap‘ di abad ke-19.

      Teori Steady-state menyatakan, alam semesta berukuran tak hingga dan kekal sepanjang masa.
      Dengan tujuan mempertahankan paham materialis, teori ini sama sekali berseberangan dengan
      teori Big Bang, yang mengatakan bahwa alam semesta memiliki permulaan. Mereka yang
      mempertahankan teori steady-state telah lama menentang teori Big Bang. Namun, ilmu
      pengetahuan justru meruntuhkan pandangan mereka.

      Pada tahun 1948, Gerge Gamov muncul dengan gagasan lain tentang Big Bang. Ia mengatakan,


‘’Makalah Bumi dalam Alam Semesta’’_Ilmu Kealaman Dasar                                        Page 5
      setelah pembentukan alam semesta melalui ledakan raksasa, sisa radiasi yang ditinggalkan oleh
      ledakan ini haruslah ada di alam. Selain itu, radiasi ini haruslah tersebar merata di segenap
      penjuru alam semesta.

      Bukti yang ‘seharusnya ada‘ ini pada akhirnya diketemukan. Pada tahun 1965, dua peneliti
      bernama Arno Penziaz dan Robert Wilson menemukan gelombang ini tanpa sengaja. Radiasi ini,
      yang disebut ‘radiasi latar kosmis‘, tidak terlihat memancar dari satu sumber tertentu, akan
      tetapi meliputi keseluruhan ruang angkasa. Demikianlah, diketahui bahwa radiasi ini adalah sisa
      radiasi peninggalan dari tahapan awal peristiwa Big Bang. Penzias dan Wilson dianugerahi
      hadiah Nobel untuk penemuan mereka.

      Pada tahun 1989, NASA mengirimkan satelit Cosmic Background Explorer [COBE] ke ruang
      angkasa untuk melakukan penelitian tentang radiasi latar kosmis. Hanya perlu 8 menit bagi
      COBE untuk membuktikan perhitungan Penziaz dan Wilson. COBE telah menemukan sisa
      ledakan raksasa yang telah terjadi di awal pembentukan alam semesta. Dinyatakan sebagai
      penemuan astronomi terbesar sepanjang masa, penemuan ini dengan jelas membuktikan teori
      Big Bang.

      Bukti penting lain bagi Big Bang adalah jumlah hidrogen dan helium di ruang angkasa. Dalam
      berbagai penelitian, diketahui bahwa konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta bersesuaian
      dengan perhitungan teoritis konsentrasi hidrogen-helium sisa peninggalan peristiwa Big Bang.
      Jika alam semesta tak memiliki permulaan dan jika ia telah ada sejak dulu kala, maka unsur
      hidrogen ini seharusnya telah habis sama sekali dan berubah menjadi helium.

      Segala bukti meyakinkan ini menyebabkan teori Big Bang diterima oleh masyarakat ilmiah.
      Model Big Bang adalah titik terakhir yang dicapai ilmu pengetahuan tentang asal muasal alam
      semesta. Begitulah, alam semesta ini telah diciptakan oleh Allah Yang Maha Perkasa dengan
      sempurna tanpa cacat:

      “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan
      Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihtatlah berulang-ulang, adakah
      kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang.” (Al-Mulk:3)

   4. Ledakan yang Membentuk Kesempurnaan
      Segala bukti meyakinkan di atas telah menyebabkan teori Big Bang diterima oleh masyarakat
      ilmiah. Model Big Bang adalah titik terakhir yang dicapai ilmu pengetahuan tentang asal muasal
      alam semesta. Begitulah, alam semesta ini telah diciptakan oleh Allah Yang Maha Perkasa
      dengan sempurna tanpa cacat dari ketiadaan.

      Dennis Sciama, yang selama bertahun-tahun bersama Sir Fred Hoyle mempertahankan teori
      Steady-state, yang berlawanan dengan fakta penciptaan alam semesta, menjelaskan posisi akhir
      yang telah mereka capai setelah semua bukti bagi teori Big Bang terungkap. Sciama menyatakan
      bahwa ia mempertahankan teori Steady-state bukan karena ia menanggapnya benar, melainkan
      karena ia berharap bahwa inilah yang benar.

      Sciama selanjutnya mengatakan, ketika bukti mulai bertambah, ia harus mengakui bahwa
      permainan telah usai dan teori Steady-state harus ditolak. Prof George Abel dari Universitas
      California juga menerima kemenangan akhir Big Bang dan menyatakan bahwa bukti yang kini
      ada menunjukkan bahwa alam semesta bermula milyaran tahun silam melalui peristiwa Big
      Bang. Ia mengakui bahwa ia tak memiliki pilihan kecuali menerima teori Big Bang.

      Dengan kemenangan Big Bang, mitos ‘materi kekal’ yang menjadi dasar berpijak paham
      materialis terhempaskan ke dalam tumpukan sampah sejarah. Lalu keberadaan apakah sebelum
      Big Bang; dan kekuatan apa yang memunculkan alam semesta sehingga menjadi ‘ada’ dengan
      ledakan raksasa ini saat alam tersebut ‘tidak ada’?

      Meminjam istilah Arthur Eddington, pertanyaan ini jelas mengarah pada fakta yang ‘secara
      filosofis menjijikkan’ bagi kaum materialis, yakni keberadaan sang Pencipta, alias The Creator,


‘’Makalah Bumi dalam Alam Semesta’’_Ilmu Kealaman Dasar                                         Page 6
      alias Al-Khaliq.

      Filosof ateis terkenal Antony Flew berkata tentang hal ini: “Sayangnya, pengakuan adalah baik
      bagi jiwa. Karenanya, saya akan memulai dengan pengakuan bahwa kaum Ateis Stratonisian
      terpaksa dipermalukan oleh kesepakatan kosmologi zaman ini. Sebab, tampaknya para ahli
      kosmologi tengah memberikan bukti ilmiah bahwa alam semesta memiliki permulaan.”

      Banyak ilmuwan yang tidak secara buta menempatkan dirinya sebagai ateis telah mengakui
      peran Pencipta yang Mahaperkasa dalam penciptaan alam semesta. Pencipta ini haruslah Dzat
      yang telah menciptakan materi dan waktu, namun tidak terikat oleh keduanya.
      Ahli astrofisika terkenal Hugh Ross mengatakan: “Jika permulaan waktu terjadi bersamaan
      dengan permulaan alam semesta, sebagaimana pernyataan teorema ruang, maka penyebab
      terbentuknya alam semesta pastilah sesuatu yang bekerja pada dimensi waktu yang sama sekali
      tak tergantung dan lebih dulu ada dari dimensi waktu alam semesta. Kesimpulan ini
      memberitahu kita bahwa Tuhan bukanlah alam semesta itu sendiri, Tuhan tidak pula berada di
      dalam alam semesta.”

      Begitulah, materi dan waktu diciptakan oleh sang Pencipta yang tidak terikat oleh keduanya.
      Pencipta ini adalah Allah, Dialah Penguasa langit dan bumi.

      Sebenarnya, Big Bang telah menimbulkan masalah yang lebih besar bagi kaum materialis
      daripada pengakuan Filosof ateis, Antony Flew. Sebab, Big Bang tak hanya membuktikan bahwa
      alam semesta diciptakan dari ketiadaan, tetapi ia juga diciptakan secara sangat terencana,
      sistematis dan teratur.

      Big Bang terjadi melalui ledakan suatu titik yang berisi semua materi dan energi alam semesta
      serta penyebarannya ke segenap penjuru ruang angkasa dengan kecepatan yang sangat tinggi.
      Dari materi dan energi ini, munculah suatu keseimbangan luar biasa yang melingkupi berbagai
      galaksi, bintang, matahari, bulan, dan benda angkasa lainnya. Hukum alam pun terbentuk yang
      kemudian disebut ’hukum fisika’, yang seragam di seluruh penjuru alam semesta, dan tidak
      berubah.

      Hukum fisika yang muncul bersamaan dengan Big Bang tak berubah sama sekali selama lebih
      dari 15 milyar tahun. Selain itu, hukum ini didasarkan atas perhitungan yang sangat teliti
      sehingga penyimpangan satu milimeter saja dari angka yang ada sekarang akan berakibat pada
      kehancuran seluruh bangunan dan tatanan alam semesta. Semua ini menunjukkan bahwa suatu
      tatanan sempurna muncul setelah Big Bang.

      Namun, yang namanya ledakan tidak mungkin memunculkan tatanan sempurna. Semua ledakan
      cenderung berbahaya, menghancurkan, dan merusak apa yang ada. Mulai dari ledakan gunung
      berapi sampai ledakan kompor di dapur, semua bersifat merusak.
      Karenanya, jika kita diberitahu tentang kemunculan tatanan sangat sempurna setelah suatu
      ledakan, kita dapat menyimpulkan bahwa ada campur tangan ‘cerdas’ di balik ledakan ini, dan
      segala serpihan yang berhamburan akibat ledakan ini telah digerakkan secara sangat terkendali.

      Sir Fred Hoyle, yang akhirnya harus menerima teori Big Bang setelah bertahun-tahun
      menentangnya, mengungkapkan hal ini dengan jelas: “Teori Big Bang menyatakan bahwa alam
      semesta berawal dari satu ledakan tunggal. Tapi, sebagaimana diketahui, ledakan hanya
      menghancurkan materi berkeping-keping, sementara Big Bang secara misterius telah
      menghasilkan dampak yang berlawanan -yakni materi yang saling bergabung dan membentuk
      galaksi-galaksi.”

      Tidak ada keraguan, jika suatu tatanan sempurna muncul melalui sebuah ledakan, maka harus
      diakui bahwa terdapat campur tangan Pencipta yang berperan di setiap saat dalam ledakan ini.

      Hal lain dari tatanan luar biasa yang terbentuk di alam menyusul peristiwa Big Bang ini adalah
      penciptaan ‘alam semesta yang dapat dihuni’. Persyaratan bagi pembentukan suatu planet layak
      huni sungguh sangat banyak dan kompleks, sehingga mustahil untuk beranggapan bahwa


‘’Makalah Bumi dalam Alam Semesta’’_Ilmu Kealaman Dasar                                       Page 7
      pembentukan ini bersifat kebetulan.

      Setelah melakukan perhitungan tentang kecepatan mengembangnya alam semesta, Paul Davis,
      profesor fisika teori terkemuka, meyakini bahwa kecepatan ini memiliki ketelitian yang sungguh
      tak terbayangkan.

      Davis berkata: “Perhitungan jeli menempatkan kecepatan pengembangan ini sangat dekat pada
      angka kritis yang dengannya alam semesta akan terlepas dari gravitasinya dan mengembang
      selamanya. Sedikit lebih lambat dan alam ini akan runtuh, sedikit lebih cepat dan keseluruhan
      materi alam semesta sudah berhamburan sejak dulu. Jelasnya, Big Bang bukanlah sekedar
      ledakan zaman dulu, tapi ledakan yang terencana dengan sangat cermat. “

      Fisikawan terkenal, Prof Stephen Hawking mengatakan dalam bukunya A Brief History of Time,
      bahwa alam semesta dibangun berdasarkan perhitungan dan keseimbangan yang lebih akurat
      dari yang dapat kita bayangkan.

      Dengan merujuk pada kecepatan mengembangnya alam semesta, Hawking berkata: “Jika
      kecepatan pengembangan ini dalam satu detik setelah Big Bang berkurang meski hanya sebesar
      angka satu per-seratus ribu juta juta, alam semesta ini akan telah runtuh sebelum pernah
      mencapai ukurannya yang sekarang.”

      Paul Davis juga menjelaskan akibat tak terhindarkan dari keseimbangan dan perhitungan yang
      luar biasa akuratnya ini: “Adalah sulit menghindarkan kesan bahwa tatanan alam semesta
      sekarang, yang terlihat begitu sensitif terhadap perubahan angka sekecil apapun, telah
      direncanakan dengan sangat teliti. Kemunculan serentak angka-angka yang tampak ajaib ini,
      yang digunakan alam sebagai konstanta-konstanta dasarnya, pastilah menjadi bukti paling
      meyakinkan bagi keberadaan desain alam semesta.”

      Berkenaan dengan kenyataan yang sama ini, profesor astronomi Amerika, George Greenstein
      menulis dalam bukunya The Symbiotic Universe: “Ketika kita mengkaji semua bukti yang ada,
      pemikiran yang senantiasa muncul adalah bahwa kekuatan supernatural pasti terlibat.”
      Singkatnya, saat meneliti sistem yang luar biasa mengagumkan di alam semesta, akan
      kita pahami bahwa keberadaan dan cara kerjanya bersandar pada keseimbangan yang
      sangat sensitif dan tatanan yang terlalu kompleks untuk dijelaskan oleh peristiwa
      kebetulan.

      Sebagaimana dimaklumi, tidaklah mungkin keseimbangan dan tatanan luar biasa ini
      terbentuk dengan sendirinya dan secara kebetulan melalui suatu ledakan besar.
      Pembentukan tatanan semacam ini menyusul ledakan seperti Big Bang adalah satu bukti
      nyata adanya penciptaan supernatural.

      Rancangan dan tatanan tanpa tara di alam semesta ini tentulah membuktikan keberadaan
      Pencipta, beserta Ilmu, Keagungan dan Hikmah-Nya yang tak terbatas, Yang telah
      menciptakan materi dari ketiadaan dan Yang berkuasa mengaturnya tanpa henti.

Teori Pembentukan jagad Raya

    1.Teori Ledakan Besar.

    2.Teori Jagad Raya mengembang.

    3.Teori Keadaan tetap.



Teori Ledakan Besar



‘’Makalah Bumi dalam Alam Semesta’’_Ilmu Kealaman Dasar                                      Page 8
   Menurut teori ini, dahulu kala galaksi-galaksi pernah saling berdekatan. Dengan
   demikian mungkin semua galaksi dalam jagad raya berasal dari massa tunggal.
   Dalam keadaan massa tunggal, jagad raya memiliki suhu dan energi sangat besar.
   Untuk itu hanya ledakan besarlah yang dapat menghancurkan massa tunggal
   menjadi serpihan-serpihan sebagai awal jagad raya.

   Teori Jagad Raya mengembang

   Teori ini dikemukan menurut pengamatan dan hasil penelitian oleh
   Georges-Henri Lemaitre (1927) dan didukung oleh Edwin
   Hubble (1929). Menurut teori ini jagad raya bergerak saling menjauh
   sehingga mengembang menjadi luas.



   Teori Keadaan tetap

   Teori yang dipelopori oleh Fred Hoyle mengemukakan bahwa materi
   baru (hidrogen) diciptakan setiap saat untuk mengisi ruang kosong
   yang timbul dari pengembangan jagad raya. Dalam kasus ini jagad raya
   akan tetap selalu tampak sama.

   “Dari mana planet dan kita berasal?”… “Dari mana semua ini berawal?”… Mungkin ini adalah pertanyaan
   yang paling sering diperdebatkan para ilmuan. Saya akan membawa para Netsainers pergi 13,7 milyar
   tahun yang lalu untuk melihat bagaimana Alam semesta terbentuk, dari mana semua unsur berasal, dan
   bagaimana semua ini akan berakhir.

 PEMAHAMAN ISLAM TENTANG TERBENTUKNYA ALAM SEMESTA
   Alam semesta adalah fana. Ada penciptaan, proses dari ketiadaan menjadi ada, dan akhirnya hancur. Di
   antaranya ada penciptaan manusia dan makhluk hidup lainnya. Di sana berlangsung pula ribuan, bahkan
   jutaan proses fisika, kimia, biologi dan proses-proses lain yang tak diketahui.
   Dalam buku Penciptaan Alam Raya karya Harun Yahya ini penulis memperkokoh keyakinan
   akan terintegrasinya pemahaman Islam dan pemahaman manusia (ilmuwan) tentang asal muasal
   alam semesta. Adapun pertemuan pemahaman ayat Al Quran dan sains astronomi adalah bahwa
   alam semesta ini berawal dan berakhir; dan Al Quran lebih jauh memberi petunjuk bahwa alam
   semesta mempunyai Dzat Pencipta (Rabbul alamin). Fenomena ini diharapkan menjadi pembuka
   jalan dan pemicu integrasi Islam dalam kehidupan manusia.
   Seperti buku-buku Harun Yahya lainnya, penulis mengungkapkan renik-renik kehebatan,
   kemegahan, keindahan, keserasian, dan kecanggihan sebuah sistem di alam semesta, dan
   mengakhiri dengan pertanyaan: Apakah sistem yang demikian serasi terjadi dengan sendirinya,
   tanpa Yang Maha Perencana dan Yang Maha Pencipta? Eksplorasi semacam ini menggugah
   kecerdasan spiritual manusia, mendekatkan seorang muslim dengan khalik-Nya.
   Penjelajahan akal manusia mendapatkan fakta-fakta penyusun alam semesta, mulai dari dunia
   atom, planet, tata surya, hingga galaksi dan ruang alam semesta yang berbatas galaksi-galaksi
   muda. Dengan itu, pengetahuan manusia merentang dalam dimensi panjang 10-13 hingga 1026
   meter, yang merupakan batas fakta-fakta yang dapat diperoleh dalam dunia sains. Pada abad ke-
   21 manusia masih berambisi untuk menyelami dunia 10-35 meter (skala panjang Planck) atau 10-
   20
      kali lebih kecil dari penemuan skala atom pada dekade pertama abad ke-20. Begitu pula
   dimensi lainnya seperti waktu, energi, massa, rentangnya meluas dari yang lebih kecil dan lebih
   besar.
   Tentang rentang waktu alam semesta, manusia mendefinisikan berbagai zaman (dan zaman
   transisi di antaranya): Zaman Primordial, ketika usia alam semesta antara 10-50 hingga 105 tahun,
   Zaman Bintang, (106 - 1014 tahun), Zaman Materi Terdegenerasi, (1015 - 1039 tahun), Zaman
   Black Hole, (1040 - 10100 tahun), Zaman Gelap ketika alam semesta menghampiri kehancurannya
   dan Zaman Kehancuran Alam Semesta, ketika materi meluruh. Tanpa fakta-fakta dan ilmu yang
   diketahui manusia (atas izin Allah), akhirnya manusia hanya bisa berspekulasi dan tak bisa

   ‘’Makalah Bumi dalam Alam Semesta’’_Ilmu Kealaman Dasar                                      Page 9
mendefenisikan berbagai keadaan, misalnya sebelum kelahiran alam semesta dan setelah
kehancuran.
Penjelajahan akal manusia bisa menggapai penaksiran hal-hal berikut: jumlah partikel (di
Matahari 1060 atau di Bumi 1050), energi ikat (antara Bumi dan Matahari sebesar 1033 Joule),
energi radiasi matahari sebesar 1026 watt, energi Matahari yang diterima Bumi sebesar 1022
Joule, energi yang diperlukan manusia per tahun sebesar 1020 Joule, energi penggabungan inti
atom, fissi 1 mol Uranium sebesar 1013 Joule, energi yang dihasilkan 1 kg bensin sebesar 108
Joule. Sebuah anugerah yang besar bagi manusia, walaupun melalui proses yang panjang.

Deskripsi dan Model Alam Semesta
Kesan umum luas dan megahnya alam semesta diperoleh penghuni Bumi dengan memandang
langit malam yang cerah tanpa cahaya Bulan. Langit tampak penuh taburan bintang yang seolah
tak terhitung jumlahnya. Struktur dan luas alam semesta sangat sukar dibayangkan manusia, dan
progres persepsi dan rasionalitas manusia tentang itu memerlukan waktu berabad-abad.
Deskripsi pemandangan alam semesta pun beragam. Dulu alam semesta dimodelkan sebagai
ruang berukuran jauh lebih kecil dari realitas seharusnya. Ukuran diameter Bumi (12.500 km)
baru diketahui pada abad ke- 3 (oleh Eratosthenes), jarak ke Bulan (384.400 km) abad ke-16 (
Tycho Brahe, 1588), jarak ke Matahari (sekitar 150 juta km) abad ke-17 (Cassini, 1672), jarak
bintang 61 Cygni abad ke-19 , jarak ke pusat Galaksi abad ke-20 (Shapley, 1918), jarak ke
galaksi-luar (1929), Quasar dan Big Bang (1965). Perjalanan panjang ini terus berlanjut
antargenerasi.
Benda langit yang terdekat dengan bumi adalah bulan. Gaya gravitasi bulan menggerakkan
pasang surut air laut di bumi, tak henti-hentinya selama bermiliar tahun. Karena periode orbit
dan rotasi Bulan sama, manusia di Bumi tak pernah bisa melihat salah satu sisi permukaan Bulan
tanpa bantuan teknologi untuk mengorbit Bulan. Rahasia sisi Bulan lainnya, baru didapat dengan
penerbangan Luna 3 pada tahun 1959.
Pada siang hari, pemandangan langit sebatas langit biru dan matahari atau bulan kesiangan;
sedang di saat fajar dan senja, langit merah di kaki langit timur dan barat. Interaksi cahaya
matahari dengan angkasa Bumi melukiskan suasana langit yang berwarna warni.
Matahari sendiri adalah satu di antara beragam bintang di Galaksi. Ada bintang yang lebih panas
dari Matahari (suhu permukaan Matahari 5.800o K), seperti bintang panas (bisa mencapai
50.000oK) yang memancarkan lebih banyak cahaya ultraviolet-cahaya yang berbahaya bagi
kehidupan. Ada bintang yang lebih dingin, lebih banyak memancarkan cahaya merah dan
inframerah dibandingkan cahaya tampak yang banyak dipergunakan manusia.
Manusia bisa mencapai batas-batas pengetahuan alam semesta yang luas, mengenal ciptaan
Allah yang tidak pernah dikenali di muka bumi seperti Black Hole, bintang Netron, Pulsar,
bintang mati, ledakan bintang Nova atau Supernova, ledakan inti galaksi dan sebagainya. Akan
tetapi, berbagai fenomena yang sangat dahsyat itu tak mungkin didekatkan dengan mahluk hidup
yang rentan terhadap kerusakan. Walau demikian, ada jalan bagi yang ingin bersungguh-sungguh
menekuninya.
Dengan Sains Menangkap Realitas Alam Semesta
Pemahaman manusia tentang alam semesta mempergunakan seluruh pengetahuan di bumi,
berbagai prinsip-prinsip, kepercayaan umum dalam sains (seperti ketidakpastian Heisenberg
tentang pengukuran simultan dimensi ruang dan waktu), serta berbagai aturan untuk keperluan
praktis. Melalui sebuah kerangka besar gagasan yang menghubungkan berbagai fenomena (teori
relativitas umum, teori kinetik materi, teori relativitas khusus) coba dikemukakan satu
penjelasan. Berbagai hipotesa, gagasan awal atau tentatif dikemukakan untuk menjelaskan
fenomena. Tentu gagasan tersebut masih perlu diuji kebenarannya untuk dapat dikatakan sebuah
hukum.
Dunia fisika membahas konsep energi, hukum konservasi, konsep gerak gelombang, dan konsep
medan. Pembahasan Mekanika pun sangat luas, dari Mekanika klasik ke Mekanika Kuantum
Relativistik. Mekanika Kuantum Relativistik mengakomodasi pemecahan persoalan mekanika
semua benda, Mekanika kuantum melayani persoalan mekanika untuk semua massa yang
kecepatannya kurang dari kecepatan cahaya. Mekanika Relativistik memecahkan persoalan
mekanika massa yang lebih besar dari 10-27 kg dan bagi semua kecepatan. Mekanika Newton
(disebut juga mekanika klasik) menjelaskan fenomena benda yang relatif besar, dengan


‘’Makalah Bumi dalam Alam Semesta’’_Ilmu Kealaman Dasar                                Page 10
kecepatan relatif rendah, tapi juga bisa dipergunakan sebagai pendekatan fenomena benda
mikroskopik.
Mekanika statistik (kuantum klasik) adalah suatu teknik statistik untuk interaksi benda dalam
jumlah besar untuk menjelaskan fenomena yang besar, teori kinetik dan termodinamik. Dalam
penjelajahan akal manusia di dunia elektromagnet dikenal persamaan Maxwell untuk
mendeskripsikan kelakuan medan elektromagnet, juga teori tentang hubungan cahaya dan
elektromagnet. Dalam pembahasan interaksi partikel, ada prinsip larangan Pauli, interaksi
gravitasi, dan interaksi elektromagnet. Medan menyebabkan gaya; medan-gravitasi
menyebabkan gaya gravitasi, medan-listrik menyebabkan gaya listrik dan sebagainya.
Demikianlah, metode sains mencoba dengan lebih cermat menerangkan realitas alam semesta
yang berisi banyak sekali benda langit (dan lebih banyak lagi yang belum ditemukan).
Pengetahuan tentang luas alam semesta dibatasi oleh keberadaan objek berdaya besar, seperti
Quasar atau inti galaksi, sebagai penuntun tepi alam semesta yang bisa diamati; selain itu juga
dibatasi oleh kecepatan cahaya dan usia alam semesta (15 miliar tahun). Itulah sebabnya ruang
alam semesta yang pernah diamati manusia berdimensi 15-20 miliar tahun cahaya. Namun,
banyak benda langit yang tak memancarkan cahaya dan tak bisa dideteksi keberadaannya,
protoplanet misalnya. Menurut taksiran, sekitar 90% objek di alam semesta belum atau tak akan
terdeteksi secara langsung. Keberadaannya objek gelap ini diyakini karena secara dinamika
mengganggu orbit objek-objek yang teramati, lewat gravitasi.
Berbicara tentang daya objek, dalam kehidupan sehari-hari ada lampu penerangan berdaya 10
watt, 75 watt dan sebagainya; sedangkan Matahari berdaya 1026 watt dan berjarak satu sa* dari
Bumi, menghangatinya. Jika kita lihat, lampu-lampu kota dengan daya lebih besarlah yang
tampak terang. Menurut hukum cahaya, terang lampu akan melemah sebanding dengan jarak
kuadrat, jadi sebuah lampu pada jarak 1 meter tampak 4 kali lebih terang dibandingkan pada
jarak 2 meter, dan apabila dilihat pada jarak 5 meter tampak 25 kali lebih redup.
Maka, kemampuan mata manusia mengamati bintang lemah terbatas. Ukuran kolektor cahaya
juga akan membatasi skala terang objek yang bisa diamati. Untuk pengamatan objek langit yang
lebih lemah dipergunakan kolektor atau teleskop yang lebih besar. Teleskop yang besar pun
mempunyai keterbatasan dalam mengamati obyek langit yang lemah, walaupun berhasil
mendeteksi obyek langit yang berjuta atau bermiliar kali lebih lemah dari bintang terlemah yang
bisa dideteksi manusia. Pertanyaan lain muncul: Apakah semua objek langit bisa diamati melalui
teleskop? Berapa banyak yang mungkin diamati dan dihadirkan sebagai pengetahuan?
Makin jauh jarak galaksi, berarti pengamatan kita juga merupakan pengamatan masa silam
galaksi tersebut. Cahaya merupakan fosil informasi pembentukan alam semesta yang berguna,
dan manusia berupaya menangkapnya untuk mengetahui prosesnya hingga takdir di masa depan
yang sangat jauh, yang akan dilalui melalui hukum-hukum alam ciptaan-Nya. Pengetahuan kita
tentang hal tersebut sangat bergantung pada pengetahuan kita tentang hukum alam ciptaan-Nya;
sudah lengkap dan sudah sempurnakah, ataukah baru sebagian kecil, sehingga mungkin bisa
membentuk ekstrapolasi persepsi yang salah?
Sampai di batas mana manusia bisa membayangkan dan menjangkaunya? Bagaimana kondisi
awal, bagaimana kondisi sebelumnya, bagaimana kondisi 5 miliar tahun ke depan, bagaimana
kondisi 50 miliar tahun ke depan dan seterusnya? Apakah pengetahuan agama akan memberi
jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut? Alam semesta yang megah akan runtuh, akan hancur,
tapi entah bagaimana prosesnya, dan ada apa setelah kehancuran itu? Kita kembali kepada Allah
untuk mencari jawaban-Nya, karena Dia adalah zat Maha Mengetahui atas segala ciptaan-Nya,
dan manusia hanya diberi pengetahuan-Nya sedikit.

Khatimah
Begitulah, melalui sains manusia mencoba dideskripsikan apa dan bagaimana proses fenomena
alam bisa terjadi dalam konteks eksperimen dan pengamatan, dengan parameter yang bisa
diamati dan diukur. Agama memperluas spektrum makna alam semesta bagi manusia tentang
kehadiran benda-benda alam semesta, kehidupan dan manusia. Jawaban singkat tentang
pertanyaan Siapa pencipta alam semesta beserta hukum-hukum alamnya: Allah adalah zat yang
Maha Pencipta. Agama memperluas pengetahuan yang dicakup oleh metodologi sains dan
rasionalitas manusia seperti berkenalan dengan alam gaib, akhirat dan sebagainya. Namun
begitu, rupanya berbagai pertanyaan manusia tentang misteri alam semesta di sekitar planet
Bumi masih banyak yang belum terjawab atau mungkin tak berjawab hingga kehancuran Bumi.

‘’Makalah Bumi dalam Alam Semesta’’_Ilmu Kealaman Dasar                                Page 11
Wallahu a'lam bishawwab
KERUNTUHAN ILMIAH METERIALISME

Materialisme tidak dapat lagi dinyatakan sebagai filsafat ilmiah.
(Arthur Koestler, Filsuf Sosial terkenal.) 1
Bagaimanakah alam semesta tak berbatas tempat kita tinggal ini
terbentuk? Bagaimanakah keseimbangan, keselarasan, dan keteraturan
jagat raya ini berkembang? Bagaimanakah bumi ini menjadi tempat
tinggal yang tepat dan terlindung bagi kita?
Aneka pertanyaan seperti ini telah menarik perhatian sejak ras manusia
bermula. Para ilmuwan dan filsuf yang mencari jawaban dengan
kecerdasan dan akal sehat mereka sampai pada kesimpulan bahwa
rancangan dan keteraturan alam semesta merupakan bukti keberadaan
Pencipta Mahatinggi yang menguasai seluruh jagat raya.
Ini adalah kebenaran tak terbantahkan yang dapat kita capai dengan
menggunakan kecerdasan kita. Allah mengungkapkan kenyataan ini
dalam kitab suci-Nya, Al Quran, yang telah diwahyukan empat belas
abad yang lalu sebagai penerang jalan bagi kemanusiaan. Allah menyatakan bahwa Dia telah
menciptakan alam semesta dari ketiadaan, untuk suatu tujuan khusus, serta dilengkapi dengan
semua sistem dan keseimbangannya yang dirancang khusus untuk kehidupan manusia.
Allah mengajak manusia untuk mempertimbangkan kebenaran ini dalam ayat berikut:
"Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya. Dia
meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya. Dan Dia menjadikan malamnya gelap
gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya."
(QS. An-Naazi'aat, 79: 27-30)
Pada ayat lain dalam Al Quran dinyatakan pula bahwa manusia harus melihat dan
mempertimbangkan semua sistem dan keseimbangan di alam semesta yang telah diciptakan
Allah untuknya, serta memetik pelajaran dari pengamatannya:
"Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu
ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-
benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya)." (QS. An-Nahl, 16:
12)
Dalam ayat Al Quran lainnya , ditunjukkan:
"Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan
menundukkan matahari dan bulan, dan masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan.
Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang
yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari." (QS.
Faathir, 35: 13)
Kebenaran nyata yang dipaparkan Al Quran juga ditegaskan oleh sejumlah penemu penting ilmu
astronomi modern, Galileo, Kepler, dan Newton. Semua menyadari bahwa struktur alam
semesta, rancangan tata surya, hukum-hukum fisika, dan keadaan seimbang, semuanya
diciptakan Tuhan, dan para ilmuwan itu sampai pada kesimpulan dari penelitian dan pengamatan
mereka sendiri.

Materialisme: Kesalahan Abad ke-19
Realitas penciptaan yang kita bicarakan telah diabaikan atau diingkari sejak dahulu oleh sebuah
pandangan filosofis tertentu. Pandangan itu disebut "materialisme". Filsafat ini, yang semula
dirumuskan di kalangan bangsa Yunani kuno, juga telah muncul dari waktu ke waktu dalam
budaya lain, dan dikembangkan pula secara perorangan. Menurut materialisme, hanya materi
yang ada, dan begitulah adanya sepanjang waktu yang tak terbatas. Dari pendirian itu, diklaim
bahwa alam semesta juga "selalu" ada dan tidak diciptakan.
Sebagai tambahan bagi klaim mereka; bahwa alam semesta ada dalam waktu yang tidak terbatas,
penganut materialisme juga mengemukakan bahwa tidak ada tujuan atau sasaran di dalam alam
semesta. Mereka menyatakan bahwa semua keseimbangan, keselarasan, dan keteraturan yang
tampak di sekita sekitar kita hanyalah peristiwa kebetulan. "Peristiwa kebetulan" juga diajukan
ketika muncul pertanyaan tentang bagaimana manusia terjadi. Teori evolusi, dikenal luas sebagai
Darwinisme, adalah aplikasi lain materialisme pada dunia alam.

‘’Makalah Bumi dalam Alam Semesta’’_Ilmu Kealaman Dasar                                Page 12
Baru saja disebutkan bahwa sebagian pendiri sains modern adalah orang yang beriman, yang
sepakat bahwa alam semesta diciptakan dan diatur oleh Tuhan. Pada abad ke-19, terjadi
perubahan penting dalam sikap dunia ilmiah mengenai masalah ini. Materialisme dengan sengaja
dimasukkan dalam agenda ilmu alam modern oleh pelbagai kelompok. Karena keadaan politik
dan sosial abad ke-19 membentuk basis kuat bagi materialisme, filsafat tersebut diterima luas
dan tersebar ke seluruh dunia ilmiah.
Akan tetapi, temuan sains modern secara tak terbantahkan menunjukkan betapa kelirunya
pernyataan materialisme.

Temuan-Temuan Sains Abad ke-20
Mari kita tinjau lagi dua pandangan materialisme tentang alam semesta:
1. Alam semesta telah ada sejak waktu yang tak terbatas, dan karena tidak mempunyai awal atau
akhir, alam semesta tidak diciptakan.
2. Segala sesuatu dalam alam semesta hanyalah hasil peristiwa kebetulan dan bukan produk
rancangan, rencana, atau visi yang disengaja.
Kedua pandangan ini dikemukakan dengan berani dan dibela mati-matian oleh materialis abad
ke-19, yang tentu saja tidak punya jalan lain kecuali bergantung kepada pengetahuan ilmiah
zaman mereka yang terbatas dan tidak canggih. Kedua pendapat itu telah dibantah sepenuhnya
dengan penemuan-penemuan sains abad ke-20.
Yang terkubur pertama kali adalah pendapat bahwa alam semesta sudah ada sejak waktu yang
tak terbatas. Sejak tahun 1920-an, telah muncul bukti tegas bahwa pendapat ini tidak mungkin
benar. Para ilmuwan sekarang merasa pasti bahwa jagat raya tercipta dari ketiadaan, sebagai
hasil suatu ledakan besar yang tak terbayangkan, yang dikenal sebagai "Dentuman Besar (Big
Bang)". Dengan kata lain, alam semesta terbentuk, atau tepatnya, diciptakan oleh Allah.
                           Abad ke-20 juga menyaksikan kehancuran klaim materialis yang
                           kedua: bahwa segala sesuatu di jagat raya adalah hasil dari kebetulan
                           dan bukan rancangan. Riset yang diadakan sejak tahun 1960-an dengan
                           konsisten menunjukkan bahwa semua keseimbangan fisik alam
                           semesta umumnya dan bumi kita khususnya dirancang dengan rumit
                           untuk memungkinkan kehidupan. Ketika penelitian ini diperdalam,
                           ditemukan bahwa setiap hukum fisika, kimia, dan biologi, setiap gaya-
                           gaya fundamental seperti gravitasi dan elektromagnetik, dan setiap
                           detail struktur atom dan unsur-unsur alam semesta sudah diatur dengan
                           tepat sehingga manusia dapat hidup. Ilmuwan masa kini menyebut
                           desain luar biasa ini "prinsip antropis". Prinsip ini menyatakan bahwa
Sains modern               setiap detail alam semesta telah dirancang dengan cermat untuk
membuktikan                memungkinkan manusia hidup.
kenyataan penciptaan       Kesimpulannya, filsafat yang disebut materialisme telah ditolak oleh
alam semesta oleh          sains modern. Dari posisinya sebagai pandangan ilmiah yang dominan
Allah, yang                pada abad ke-19, materialisme telah jatuh menjadi cerita fiksi pada
bertentangan dengan        abad ke-20.
filsafat usang             Bagaimana tidak? Seperti yang ditunjukkan Allah:
materialis. Newsweek       "Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada atara
memuat kisah sampul        keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-
"Science Finds God"        orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan
pada edisi 27 Juli,        masuk neraka." (QS. Shaad, 38: 27)
1989.                      Adalah keliru untuk menganggap alam semesta diciptakan dengan sia-
                           sia. Filsafat yang benar-benar keliru seperti materialisme dan sistem-
sistem yang berdasarkan pada paham itu telah ditakdirkan untuk gagal sejak awal sekali.
Penciptaan adalah sebuah fakta. Dalam buku ini kita akan mengkaji bukti kenyataan tersebut.
Kita akan melihat bagaimana materialisme telah runtuh di hadapan sains modern dan juga
menyaksikan betapa menakjubkan dan sempurna alam semesta dirancang dan diciptakan oleh
Allah




‘’Makalah Bumi dalam Alam Semesta’’_Ilmu Kealaman Dasar                                 Page 13
‘’Makalah Bumi dalam Alam Semesta’’_Ilmu Kealaman Dasar   Page 14
Semesta’’_Ilmu Kealaman Dasar   Page 14

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:10642
posted:12/22/2010
language:Indonesian
pages:14